Kamis, 06 Desember 2012

BUDAYA KARO : Piso Surit :)

Salam udara :)


Tulisan kali ini sebenarnya terinspirasi dari suatu kegiatan yang diadakan oleh tempat lesku. Dimana kami ditunjuk untuk menunjukkan lagu, tarian daerah kita masing – masing untuk diperkenalkan kepada teman – teman native kita yang berasal dari Amerika Serikat. Acara ini diselenggarakan untuk merayakan hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober.

Awalnya saya bingung dengan apa yang harus ditunjukkan, karena kebetulan saya berasal dari 2 adat. Ibuku dari Batak Toba sedangkan ayahku Batak Karo, so I’m blasteran J. Namun, saya sadari sebenarnya banyak dari para native yang belum mengenal tentang budaya Karo sesungguhnya. Tidak hanya para native, namun beberapa warga Indonesia saja ketika mereka bertanya asal dari mana? dan kita jawab kota Medan, dipikiran mereka pasti orang BATAK, padahal sesungguhnya tidak. Walaupun karo itu adalah bagian dari batak, namun kebanyakan dari kita orang karo tidak ingin dibilang orang batak. Tidak mengerti kenapa, tapi yang pasti tulisan ini tidak untuk mempermasalahkan hal itu.


Akhirnya saya putuskan untuk memperkenalkan budaya karo. Saya mengingat dan mencari hal – hal apa saja yang bisa saja jelaskan dan mudah dipahami oleh para native, dan musik adalah solusinya. Because music is universal. Salah satu lagu karo yang paling saya suka dan merupakan lagu yang nge-hits kala itu adalah “PISO SURIT”.

Kebanyakan dari anak – anak remaja sekarang, mungkin tidak banyak yang mengenal lagu ini. Kalau ditanya berasal dari mana lagunya, siapa penciptanya, mungkin mereka tidak akan mengenalnya. Untuk itulah saya ingin menulis ini kembali, dengan harapan banyak orang ingin lagi kembali mendengar lagu – lagu daerah dan tidak melupakannya begitu saja.

PISO SURIT adalah nama sejenis burung yang sering terdengar bernyanyi di sekitar sawah (zaman dulu sawah masih sering, tidak seperti sekarang). Kicauan burung ini terdengar begitu sendu seperti memanggil – manggil, “Piso suriiit…pisoo”…

Lagu PISO SURIT ini diiring oleh salah satu tarian Suku Karo yang menggambarkan penantian seorang gadis terhadap kekasihnya. Diceritakan penantian gadis tersebut sangat lama dan menyedihkan sehingga digambarkan seperti burung Piso Surit yang memanggil – manggil. Arti kata Piso dalam bahasa Karo adalah pisau, namun dalam lagu ini artinya bukanlah sejenis pisau khas suku karo melainkan kicau burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar dengan saksama, sepertinya sedang memanggil – manggil dan kedengaran sangat menyedihkan. Walaupun saya tidak pernah secara langsung mendengar, namun melalui lagu ini saya merasakan kesedihan itu ketika pertama kali lagu ini diperdengarkan kepada saya.

Burung Piso Surit biasanya berkicau di sore hari. Jenis burung ini dalam bahasa Karo disebut “PINCALA” bunyinya nyaring dan jika didengar berulang – ulang akan terdengar seperti bunyi “piso surit”. Kicau burung inilah yang digambarkan oleh seorang komponis yang berasal dari daerah Karo “Djaga Depari”, dan dengan ini pula di daerah Desa Seberaya ada sebuah jambur (tempat mengadakan pesta adat Karo) diberi nama Jambur Piso Surit. Kepiawaian Djaga Depari dalam menciptakan lagu berbasis lagu karo, tentang moralitas masyarakat karo, adat istiadat karo, sampai kehidupan perjuangan masyarakat karo semasa merebut kemerdekan dari tangan penjajah pada masa lalu, membuat Djaga Depari layak diperhitungkan sebagai salah seorang komponis nasional. Dan akhirnya, Djaga Depari sang maestro dianugrahkan gelar sebagai komponis nasional Indonesia. Dan tidak hanya itu, untuk mengenang jasanya, sebuah monumen dibangun di persimpangan antara Jl. Sultan Iskandar Muda, Jl.Pattimura, Depan Rumah Sakit Siti Hajar. Monumen Djaga Depari, begitu gagah sambil memegang biola kesayangannya.

Ini adalah arti dan lirik lagu PISO SURIT :
 Piso surit piso surit (Burung Piso surit)
Terpingko – pingko, terdilo – dilo (Berciut – ciut, memanggil – manggil)
Lalap la jumpa ras atena ngena (Namun tidak kunjung berjumpa dengan pujaan hatinya)
I ija kel kena tengahna gundari (Dimanakah dirimu saat ini kekasihku)
Siangna menda turang atena wari ( Dan hari pun kini menjelang senja)
Entabeh nari mata kena tertunduh ( Lelap sekali sepertinya tidurmu)
Aku nimaisa turang tangis teriluh (Sementara aku disini menangis menunggumu)
Reff :
Enggo enggo me dagena mulih me dage kena (Sudahlah, pulang sajalah kau adik, tidak usah mengharapkanku)
Bage me nindu rupa ari o turang (Demikianlah yang selalu kau ucapkan)

Lagu ini kemudian diaransemen ulang oleh Viki Sianipar, orang yang menurut saya adalah salah satu pemuda Indonesia yang begitu peduli dengan lagu daerah, dan mencintai Indonesia. Harapan akan semakin banyak pemuda – pemudi Indonesia yang peduli dengan musik, tarian, dan kebudayaan daerah Indonesia, sehingga tidak akan ada lagi klaim dari negara orang.
Buat teman – teman yang mau download video lagu ini, silahkan copy link dibawah ini, dan selamat mendengarkan.



http://youtu.be/dHxwwngf8yk  (versi karaoke)

Thanks buat yang udah baca, semoga bermanfaat buat kita semua. ^^
……….Rise Up Young Generation….   
Thanks buat para blogger lain yang telah membuat tulisan ini sebelumnya :)  
#salamudara

Kamis, 20 September 2012

Welcome :)

Hai, all people around the world :)

Salam udara :)

Hampir sebulan, saya tidak memberikan kabar terbaru dan berita terbaru dari aku. Maybe you miss me :)

Setelah menghabiskan hampir satu setengah bulan di Ibukota Jakarta, aku merasakan perbedaan yang cukup signifikan antara kehidupanku di Medan dan Jakarta.
Banyak perbedaan membuatku semakin belajar semakin mencintai, mensyukuri apa yang kumiliki sekarang.
Tak banyak yang bisa kuungkapkan.
Tak banyak pula yang bisa kuceritakan.
Namun, mungkin ditulisanku selanjutnya aku akan menceritakan semuanya.
Aku akan berusaha mendeskripsikan bagaimana pandanganku mengenai ibukota, tempat dimana semua orang dari seluruh pelosok negeri ingin mengadu nasib disana.
Tempat dimana semua hal ada, dimana sebuah hal yang tidak normal diterima menjadi sebuah hal yang normal.

Untuk pertama kalinya, aku merasa asing dikota itu.
Padahal July kemarin adalah ketika kalinya aku kesana walaupun sendirian,
tapi aku merasakan ada perubahan, ada gegar budaya yang aku rasakan.
Sungguh mengejutkan!!!
Tapi inilah yang membuatku semakin mencintai hidupku sekarang dan mensyukurinya.
Dan setelah beberapa bulan hilang karena beberapa hal, aku akan kembali.
Berusaha membangkitkan semangat jiwa - jiwa muda dalam membangun, mengembangkan negeri Indonesia.

Thank you so much :)
Gracias....

Senin, 23 Juli 2012

INSPIRASI : Orang yang Meninggal Dalam Piamanya



Salam hangat dari udara……………. J
Saya membaca di sebuah Koran Internet bahwa tanggal 10 Juni 2004, di Tokyo, seorng laki – laki ditemukan meninggal dalam piamanya.
Sejauh itu, saya masih tenang – tenang saja. Saya pikir sebagian besar orang meninggal dalam piama mereka  (a) entah meninggal dalam tidur, dan ini suatu berkah, atau (b) sedang terbaring di ranjang rumah sakit, ditemani keluarga mereka, yang berarti kematian itu tidak datang dengan  tiba – tiba, dan mereka masih sempat “berkenalan” dulu dengan “Tamu Tak Diundang” itu- mengikuti istilah dari penyair Brasil – Manuel Bandeira.
Lebih lanjut di berita itu disebutkan bahwa orang itu meninggal di kamar tidurnya. Berarti dia bukan meninggal di rumah sakit, tanpa menderita, bahkan tanpa menyadari bahwa dia tidak akan pernah melihat cahaya pagi lagi.
Tetapi masih ada satu probabilitas lainnya, orang itu korban penyerangan dan pembunuhan. Siapa pun yang mengenal Tokyo tentu tahu bahwa meskipun kota itu sangat besar, namun juga salah satu dari yang paling aman di dunia. Saya ingat, saya pernah mampir untuk makan bersama para penerbit saya di Jepang, sebelum meneruskan bermobil ke pedalaman. Koper – koper kami ditinggal di tempat duduk belakang mobil. Saya berkata bahwa ini sangat berbahaya ; bagaimana kalau ada orang yang lewat, melihat barang – barang kami, lalu membawa kabur semuanya. Penerbit saya tersenyum dan berkata saya tidak perlu khawatir; dia belum pernah mengalami hal seperti itu seumur hidupnya, dan memang tidak terjadi apa – apa pada bagasi kami, walaupun selama acara makan itu saya merasa tidak tenang.
Kembali pada orang yang meninggal dalam piama itu. Tidak ada tanda – tanda pergulatan ataupun kekerasan. Seorang polisi dari Metropolitan Police diwawancarai oleh surat kabar tersebut, dan dia berkata orang itu kemungkinan besar meninggal karena serangan jantung. Jadi, kita bisa mencoret kemungkinan dia dibunuh.
Jenazah almarhum diketemukan oleh para karyawan sebuah perusahaan konstruksi, di lantai dua sebuah bangunan di kompleks perumahan yang akan dihancurkan. Semua faktanya mengarahkan kita untuk berpikir bahwa orang yang meninggal dalam piama itu tidak menemukan tempat tinggal lain di Tokyo – salah satu kota berpenduduk paling padat dan berbiaya hidup paling mahal di dunia – jadi dia memutuskan untuk tinggal di bangunan kosong saja, supaya tidak usah membayar sewa.
Tetapi ini bagian tragisnya. Orang yang meninggal itu ternyata sudah berupa kerangka yang memakai piama. Di sampingnya ada lembaran surat kabar bertanggal 20 Februari 1984. Di sebuah meja di dekatnya ada kalender yang menunjukkan tanggal yang sama.
Berarti orang itu sudah dua puluh tahun berada di sana.
Dan tidak seorang pun merasa kehilangan dirinya.

Orang itu diidentifikasikan sebagai mantan karyawan perusahaan yang dulu membangun kompleks perumahan tersebut ; dia pindah ke sana pada awal tahun 1980-an, tidak lama setelah dia bercerai. Umurnya baru lima puluh lebih sedikit ketika maut menjemputnya sewaktu dia sedang membaca Koran.
Mantan istrinya tidak pernah berusaha menghubunginya. Para wartawan mendatangi perusahaan tempat dia dulu bekerja, dan mendapati perusahaan itu sudah bangkrut tidak lama setelah proyek perumahan itu selesai, sebab mereka gagal menjual satu pun apartemen – apartemen di situ; itu sebabnya mereka tidak merasa ada yang aneh ketika orang itu tidak muncul lagi untuk bekerja. Para wartawan melacak teman – teman almarhum, dan mereka mengira orang itu sengaja menghilang, sebab dia pernah meminjam uang dari mereka dan tidak sanggup membayar utang – utangnya.
Di akhir berita disebutkan bahwa sisa – sisa jenazah orang itu telah dikirimkan kepada mantan istrinya. Setelah selesai membaca arikel tersebut, saya jadi berpikir tentang kalimat penutupnya : si mantan istri masih hidup; tetapi selama dua puluh tahun tak pernah sekali pun dia berusaha mengontak mantan suaminya.
Apa kiranya yang ada di dalam benak perempuan itu? Bahwa mantan suaminya tidak mencintainya lagi, dan telah memutuskan untuk mngenyahkan dia dari kehidupan untuk selama – lamanya? Bahwa mantan suami telah bertemu perempuan lain dan menghilang begitu saja? Bahwa memang seperti inilah yang namanya hidup, jadi begitu proses perceraian berakhir, tidak ada gunanya meneruskan hubungan yang telah diputus secara hukum? Saya membayangkan seperti apa perasaan si mantan istri setelah dia tahu nasib orang yang, selama sekian tahun, pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Kemudian saya terpikir tentang orang yang meninggal dalam piama itu, betapa sunyi, betapa sendirian, sampai –sampai selama dua puluh tahun tak ada seseorang pun di dunia ini yang menyadari bahwa dia lenyap begitu saja, tanpa jejak. Saya hanya bisa menyimpulkan bahwa ada yang lebih parah daripada kehausan, atau kelaparan, lebih menyedihkan daripada tidak punya pekerjaan, tidak bahagia dalam cinta, atau merasa  kalah dan putus asa; jauh lebih memiriskan hati daripada semuanya itu kalau kita merasa tidak seorang pun – benar – benar tidak seorang pun – yang peduli pada kita.
Marilah kita memanjatkan doa di dalam hati untuk orang itu, dan kita ucapkan terima kasih kepadanya karena dia membuat kita menyadari arti penting teman – teman kita.
 ( Seperti Sungai yang Mengalir – Paulo Coelho )

“Kita tidak akan pernah bisa memilih siapa yang menjadi keluarga di dalam hidup kita. Tapi teman, sahabat adalah keluarga yang kita pilih”-------- Mrs.x

NB :
  • Buat teman – teman yang ke –tag dan merasa ga penting, kamu bisa hapus kok. J
  • Thanks buat yang udah menyempatkan waktunya untuk membaca note ini J

#salamudara

Rabu, 18 Juli 2012

INSPIRASI : Kisah Sebatang Pensil


Salam hangat dari udara………… J
Tulisan ini saya tuliskan dan bagikan buat kalian semua, supaya ilmu dan pengetahuan yang saya dapatkan tidak hanya untuk diri saya sendiri ( kan aku orangnya baik hati..hhehe )
Tulisan ini, aku ambil dari salah satu penulis favoriteku, yang diperkenalkan oleh temanku, Sheila Sulthana ( Terima kasih Sheila…… J )

Karya tulis ini dipersembahkan oleh “PAULO COELHO”
Judul bukunya : “ Seperti Sungai yang Mengalir”


KISAH SEBATANG PENSIL
Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya,
“Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?”
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya,
“Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”
Si anak lelaki merasa heran ; diamat – amatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.

Pertama, kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedua, sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.
Ketiga, pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
“Keempat, yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
“Dan akhirnya, yang kelima, pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.”

That’s it, semoga tulisan dari Paulo Coelho bermanfaat buat kita semua ya. Kalau mau baca tulisan lainnya, tinggal beli aja karya tulisannya di toko buku terdekat di daerah tempat tinggal kamu. Gak akan rugi deh…………….. ^.^


#salamudara

Selasa, 10 Juli 2012

LOVE INDONESIA : Pekan Flori Flora Medan


Pekan Flori dan Flora Nasional, ajang pameran holtikultura berskala Nasional dan bersifat Internasional yang diselenggarakan secara rutin di kota - kota penting di Indonesia. Dan pada tahun ini ( 2012 ), Medan mendapat kehormatan menjadi tuan rumah untuk menyelenggarakan pf2n yang ke - 5. 
Event internasional "Pekan Flori&Flora Nasional 2012" berisi program pameran komoditas unggulan daerah, misalnya Seminar, Bursa, Workshop, dan berbagai macam lomba, wisata agro, kontak bisnis, parade kendaraan hias, dan program lainnya. 
Tema yang diusung pada tahun ini adalah " Hortikultura Inovatif dan Kreatif Menuju Hidup Lebih Sehat dalam Lingkungan Lestari" 
Click this link if you want to get another information http://www.pf2n2012.com
Pekan ini akan diikuti oleh 33 provinsi di Indonesia menampilkan berbagai macam komoditas unggulan daerah, seperti tanaman hias bonsai, sansevieria, adenium, aglaonema, sayur, tanaman obat, dan buah. Pameran ini dilakukan mulai tanggal 18 - 24 Juni 2012 di samping Plaza Medan Fair, dan dihadiri oleh Plt Gubsu Gatot Pujo Nugrogo, Walikota Medan Rahudman Harahap, Wakil Walikota Medan Dzulimi Eldin dan sejumlah pejabat Pemprovsu dan Pemko Medan. 
Acara inipun sukses karena masyarakat Medan sangat tertarik dan pameran terus dipadati oleh masyarakat yang ingin mengenal dan semakin mengetahui tentang hasil - hasil komoditas di negeri Indonesia. 
Dibawah, ada beberapa hasil jepretan teman kampus saya, yang kemarin datang ke pameran. 
Take a look at this :)
1)

2)

3)

4)

5)

6)

7)

8)
thanks for reading :
* sorry kalau fotonya dikit, soalnya berat euy :)
* Smoga kita semakin senang dan mencintai produk dalam negeri :)
* If u want to give some advice, it's better :)


#salam udara

Senin, 09 Juli 2012

LOVE INDONESIA : Klaim Tarian Tor - tor dan Gordang Sambilan

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai negerinya" 

Salah satu kata - kata wejangan dari Bapak Soekarno, saat mendidihkan semangat anak muda Indonesia, ketika penjajah merajalela di negeri Indonesia.
Yups, and I agree with him ( Bapak Soekarno ). Dalam kata lain, ketika kita ingin orang lain mencintai diri kita harusnya kita mengawalinya dengan mencintai diri kita sendiri. That's right :)


And now, I want to telling you about something that's really makes me crying because this information (news) makes my own country going down. Mungkin pada tahu, tentang pengklaiman Malaysia  tentang tarian tor - tor dan gordang sambilan.
Oke, buat yang baca, please calm down and don't get anger so easy. This is my opinion about this problem, and I hope this will be useful for us. 
 Buat yang belum baca tentang beritanya, ini aku berikan linknya :::

http://www.tempo.co/read/fokus/2012/06/18/2447/Heboh-Klaim-Tari-Tortor-dan-Gondang-Sambilan
http://travel.okezone.com/read/2012/06/22/407/651837/mari-elka-silakan-gunakan-tor-tor-asalkan-jangan-diklaim
http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/22/328066/293/14/Akhirnya-Pemerintah-akan-Patenkan-Tortor-dan-Gondang-Sambilan
http://nasional.kontan.co.id/news/polemik-tarian-tor-tor-dan-gondang-sembilan-tuntas

Setelah baca berita - berita diatas dan beberapa referensi lagi, ada beberapa hal yang menjadikan ini pelajaran buat negeriku Indonesia dan juga teman - teman seperjuangan yang tinggal di negeri orang.

Pertama ketika baca dan melihat berita di media, membuatku bertanya - tanya, kenapa diklaim?? bukankah dunia tahu baru tor - tor itu milik Indonesia, negeriku, Tanah Batak loh.Namun, semakin aku membaca dan melihat lagi proses pemberitaannya, aku mengerti kenapa ini terjadi.

Kalau semua orang menyalahkan Malaysia dalam proses pengklaimannya terhadap budaya kita, harusnya kita berkaca diri dan melihat keadaan kita. Sudahkah kita mencintai dan membudayakan budaya sendiri.
If you asking me, I'm gonna say "NO" #that's horrible but it's true

Aku sendiri mengenal tarian tor - tor dan gordang sambilan, tapi aku tidak sampai mendalaminya terlalu dalam. Namun, aku mengetahui bahwa tarian tor - tor berasal dari Tanah Batak dan gordang sambilan dari Tanah Mandailing kalau tidak salah.
Inilah yang menjadi pukulan berat buat Indonesia, setelah kemarin Batik diklaim kini giliran tor - tor dan gordang sambilan yang diklaim. Namun, jika kita baru mengakui dan mempatenkan setelah diklaim, rasanya sayang sekali. Harusnya pemerintah tidak sekedar mengenal dan mengetahui tentang hasil - hasil budaya Indonesia, tapi juga mempatenkan dengan segera sehingga kejadian seperti ini tidak pernah terulang kembali.

Masukkan yang dapat aku berikan ::
* Patenkan semua hasil budaya Indonesia, jangan sampai keduluan sama orang / negeri lain.
* Pemerintah juga harusnya memiliki program yang tetap mengatur budaya Indonesia, melakukan sosialisasi yang cukup ke masyarakat. Jangan hanya program kenaikan jabatan yang besar - besaran dibuat, tapi program seperti ini juga penting.
* Dalam hal ini, pengklaiman sebenarnya terjadi dari orang Indonesia yang tinggal di Malaysia bukan orang Malaysia yang mengklaim. Namun, karena orang Indonesia ini yang 'katanya' tidak mendapat respon ketika di Indonesia, akhirnya dia mengajukan pengklaiman ini kepada Malaysia. Ini suatu kesalahan, tidak hanya dari Malaysia tapi juga orang Indonesianya. Kenapa harus mengajukan kesana? walaupun tidak direspon, saya pikir pasti ada jalan nantinya. Kemudian, pihak Malaysia sendiri, harusnya mengembalikan masalah ini ke Indonesia tidak malah semakin memperkeruh suasana.
* Memiliki program pengembangan budaya, yang dapat memberikan pendidikan bagi generasi muda untuk semakin belajar tentang budaya Indonesia, pembangunan sanggar, dan lain - lain.

Dari semua ini terlihat, bahwa semua kita BERSALAH. Tidak hanya pihak x dan pihak y, tapi kita semua. Harapan dari saya adalah hal ini tidak terulang kembali dan jadikan ini pelajaran buat kita masing - masing. Belajar untuk semakin cinta negeri kita sendiri Indonesia seperti yang ditanamkan oleh Bapak Soekarno.
Dan belajar, belajar, semakin belajar mencintai negeri kita INDONESIA.


NB :
* Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjatuhkan pihak lain atau menjelekkan pihak lain, mari sama - sama introspeksi diri.
* Jika ada beberapa kesalahan mohon dimaafkan :)
* Jika ada yang setuju dan ingin memberikan saran sangat diharapkan untuk semakin memperbaiki blog ini.



Thanks for reading :)

Rabu, 27 Juni 2012

Hope this blog, will be good to us, not only to me :) Don't take all what mass media give to you, :)

This is first entry, let's the other entry from kitapunyacerita :)